Friday, January 9, 2015

Part #5 Dapat Buah Manis Setelah Keluar Keringat yang Pelik (اَللّهُ itu Adil)


Aktivitas perkuliahan berjalan seperti biasa setelah PK2 berakhir seminggu yang lalu. Udara panas kian mengerang menjelang siang tiba, rumput-rumput mulai mengering, dedaunan mulai berguguran dan berserakan dimana-mana. Musim panas kali ini, benar-benar terasa panasnya, bukan hanya manusia bahkan makhluk hidup lainnya pun merasakan dampaknya. Gersang, debu-debu beterbangan terbawa angin hingga mengenai apapun yang ada disekitarnya. Bila pulang dari kuliah, tak jarang sepatu ini sudah memutih karena debu yang lengket. Wajah yang gersang, keringat bercucuran ditandai dengan basahnya bagian-bagian tertentu yang terlihat dari luar dan menjeplak di baju. Itulah gambaran mungkin sebagian mahasiswa yang jika kembali dari kampus menuju rusunawa ataupun asrama dengan berjalan kaki menyusuri langkah demi langkah dengan rute yang sama.
Entah apa yang mereka lakukan selama berada dalam lingkungan perkuliahan, tak ada yang mengetahui dengan pasti. Tapi raut wajah yang berbeda setiap kali melihat satu persatu bahkan berbondong-bondong menuju rusunawa pada sore hari. Ada yang ceria bercerita dengan teman disampingnya sambil berjalan menyusuri jalan setapak itu. Ada pula yang sendiri-sendiri, sambil mendengarkan lagu favorit atau radio kesayangan melalui earphone sambil lalu tanpa menghiraukan keadaan disekitar hingga sampai pada tujuannya. Ada juga raut wajah yang lelah, terkadang terlihat kesal, dongkol maupun marah, atau apapun itu tapi pasti ada sesuatu yang membuat hatinya risau terhadap apa yang terjadi dikampus yang mungkin belum memuaskan hati. Semuanya itu warna-warni kehidupan realita mahasiswa yang kulihat hampir setiap sore di ujung jalan ini.
Setelah aktivitas menyambut mahasiswa baru telah usai dengan baik, kerjasama antara panitia mahasiswa maupun dari pihak birokrat Fisip berjalan dengan semestinya. Kini saatnya setiap ormawa maupun BO menyiapkan sambutannya masing-masing dan membuat strategi agar mahasiswa baru tertarik akan organisasi yang sedang digeluti saat ini.
Begitu pun dengan Waki, salah satu BO di Fisip, yang kebetulan bagian merekrut ataupun masalah pengkaderan anggota baru adalah amanah yang berada di pundak ini. Sehingga setelah disibukkan dengan PK2, saatnya untuk menyiapkan OR Waki beserta ILT (Islamis Leadership Training) atau yang biasa dikenal dalam suatu organisasi disebut dengan istilah LDO (Latihan Dasar Organisasi).
Minggu pertama di bulan September adalah jadwal dibukanya Open Recruitment untuk anggota baru. Jauh-jauh hari aku dan Muhammad beserta anggota yang lain sudah melakukan rapat atau yang biasa kami sebut dengan Syuro', kami begitu gesit dan cekatan dalam mempersiapkan agenda ini, dimana inilah awal untuk menilai apakah syiar yang kami lakukan selama PMB dan PK 2 kemarin berhasil atau tidak.
Hari pertama OR dimulai, dimana kami membuka posko di depan mushola tercinta, pagi-pagi sekali aku datang dengan setumpuk berkas, semua bahan registrasi OR berada dalam berkas yang kubawa termasuk punya Ikhwan. Semangat pagi merasuk dalam relung jiwa dan tubuhku, bersemangat bahkan bisa dua kali lipat dari biasanya. Bangun sangat pagi, bahkan dengan waktu tidur yang cukup larut karena menyiapkan seluruh berkas yang akan dibawa dengan mengandalkan Mr. Brown dan Mr. Black yang untungnya pada malam itu sedang dalam keadaan baik nggak neko-neko hingga seluruh berkas dapat diselesaikan dengan tepat waktu.
Wajah sumringah, bahkan berjalan pun agak berlari-lari kecil karena tak sabar untuk cepat sampai kekampus pink tercinta. Embun pagi menyapa, sinar mentari yang malu-malu sembunyi dibalik awan, udara pun terasa sejuk serta semilir angin yang berhembus membasuh relung jiwa.
Sepi, tapi lumayan banyak Maba yang biasanya kuliah di awal-awal sangat rajin datang ke kampus di pagi hari. Segera bersiap, menyiapkan segala keperluan baik meja registrasi serta form-form yang akan dibagikan nantinya. Setelah semuanya terasa sudah cukup, sambil menunggu akhirnya kugerakkan tangan dan kaki ini untuk menyapu dan membersihkan tempat kecil ini yang setiap hari digunakan untuk menyembah Tuhan Semesta Alam. Dari dalam hingga ke teras yang paling luar, setelah semuanya tersapu bersih, satu persatu orang-orang mulai duduk-duduk dipinggiran mushola, ada yang menunggu, ada yang sengaja duduk-duduk sambil bergurau dengan teman-temannya.
Ku intip ke sebelah tempatnya Ikhwan, seperti ruangan yang jarang ditunggu, dan memang jarang Ikhwan untuk datang pagi sambil membersihkan Mushola. Tapi pernah suatu kali, di pagi hari ternyata di tempat Ikhwan sudah ramai, mungkin pada hari itu jadwal kuliah banyak di pagi hari.
Fitri pun yang dari palembang sudah tiba dan kini menemaniku menjaga posko ini. Seperti hal nya sebuah barang yang dijual diskon, langsung di serbu oleh pembeli-pembeli yang merasa ingin membelinya. Begitu pula pada hari pertama ini, bahkan belum sampai siang hari, formulir pendaftaran sudah banyak yang terisi. Mereka antusias mendengarkan, mereka berasal dari semua golongan, bahkan yang belum berhijab pun mereka percaya diri, bertanya ini dan itu tentang waki yang pada akhirnya mereka terpesona hingga berani mengisi form yang kami berikan. Sepertinya syiar yang kami galangkan, usaha dan pelayanan yang kami berikan, semua ongkos serta budget yang kami keluarkan, hingga keluar keringat yang bercucuran  karena bulan puasa ditambah teriknya mentari pada saat PMB dan PK2 kemarin, kini membawa berkah bahkan kami bisa merasakan manisnya bagai mendapat buah yang manis setelah upaya sungguh-sungguh hingga mengeluarkan keringat yang pelik.
Semuanya berkumpul, sahabat yang lain pun mulai meramaikan mushola dengan canda tawa mereka, ngobrol ini itu serta menjelaskan dari awal apa itu waki kepada calon-calon anggota yang sudah mengisi form. Tapi berbanding terbalik dengan yang disebelah (read: Ikhwan), walau tak seramai dengan yang akhwat tapi lumayan perlahan-lahan ada yang mendekat. Ketika melihat situasi yang jauh berbeda seperti ini, seakan ada rasa bangga tersendiri dimana akhwat jauh lebih sukses dibandingkan yang ikhwan, tapi di sisi lain merasa sedih dan bersalah, kenapa bisa terjadi ketidaksinkronan antara keduanya. Untuk menyeimbangi hal ini, kami yang akhwat sudah membuat suatu plan bahwa kami juga akan menarik yang ikhwan, berbaur dengan Maba laki-laki siapapun itu. Dan ternyata plan itu membuahkan hasil, dimana ada adik laki-laki yang kutolong waktu PMB, terlihat ia sedang mendaftarkan dirinya ke dalam wajihah ini. Walau tak sebanyak yang akhwat, tapi bahagianya tak bisa diungkap dengan kata-kata. Entah apa alasan adik laki-laki itu, tapi itu cukup menutupi rasa bersalahku yang mungkin karena koordinasiku dengan sang partner  yang tak seimbang.
Waktu bergulir seirama, di ikuti perputaran bumi pada porosnya, silih berganti, siang dan malam, semuanya bergerak seirama bertasbih kepada sang pencipta dengan caranya masing-masing yang sudah di atur sedemikian rupa. Tak ada yang mengetahui bagaimana mereka bertasbih, hanya Tuhan pemilik jagat raya inilah yang mengetahui seluk beluk, luar dalam, sesuatu yang tersimpan dibalik rahasia yang sangat rahasia sekalipun. Kini roda waktu terus berputar yang tak pernah akan bisa mundur, setiap jengkal akan terasa sia-sia bila tak di iringi dengan rasa syukur. Sudah seminggu berlalu dari pembukaan OR, kini sudah ada hasil yang kami dapatkan sebagai tolak ukur dari hasil jerih payah yang kami lakukan sejak awal PMB. Untuk pendaftar yang ikhwan plg-laya kurang lebih 50 orang sedangkan yang akhwat plg-laya kurang lebih ada 100 orang. Masya اَللّهُ , Allahu Akbar, Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?, tak ada yang sia-sia selagi kita melakukannya dengan sungguh-sungguh disertai keikhlasan. Hingga target yang kami targetkan sejak awal bahwa jumlah pendaftar nanti berjumlah 150 orang dan kini terwujud sudah, walau ini baru pendaftar yang belum sah menjadi anggota, tapi sudah cukup untuk membalas jerih payah yang kami lakukan, karena pastinya kami tahu tak sedikit banyak yang akan berguguran di jalan dakwah ini.
Terlebih yang membuat diri ini makin bersemangat menjalankan aktivitas yang menyita waktu dan tenaga ini, bahwa temanku Mala (satu angkatan denganku) akhirnya bisa menyingkirkan rasa gengsinya sehingga ia memberanikan diri untuk mendaftar waki dan berkomitmen untuk hijrah menjadi muslimah yang lebih baik selama menjadi anggota waki. Masya اَللّهُ, ini yang membuatku terharu dan memang benar salah satu firman اَللّهُ,
"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi ALLAH telah mempersatukan hati mereka, Sesungguhnya DIA Maha Gagah lagi Maha Bijaksana. (QS. Al Anfal: 63)
Aku percaya bahwa hati kami sekarang sudah disatukan oleh sang pemilik Hati, jujur saja aku sudah mendekatinya dari semester pertama ketika aku sudah berkecimpung di waki dengan cara-cara sesuai batas optimal kemampuanku untuk mengajak beliau mengikuti jejak langkah yang sedang aku jalani ini. Tapi kemarin-kemarin tanggapan ataupun respon beliau tidak ada yang menandakan keinginan untuk bergabung, aku hanya bisa berusaha dan kini usaha ku dibalas oleh sang Maha Pembalas setelah usahaku selama dua tahun belakangan ini. Kini Mala temanku itu, semakin dekat denganku, ia bersemangat ingin mengikuti ILT walau masih tetap harus di motivasi agar ia tidak minder dengan adik tingkatnya serta penampilannya yang belum syar'i tapi aku yakin perlahan-lahan Islam akan membasuh hati dan jiwanya hingga ia menemukan jati dirinya sebagai seorang muslimah. Aamiin.
19 september, hari bersejarah bagi yang akan memulai meniti jalan dakwah, mereka yang benar-benar tulus untuk me-refresh diri dengan sesuatu yang bernama Islam, -memang mereka semua adalah umat islam, tapi sulit untuk menemukan orang-orang yang benar-benar mengamalkan Islam di kehidupan yang nyata sehari-hari bukan hanya sekedar status ktp-. Jumat barokah, yang selalu dinantikan oleh umat muslim yang bertaqwa, yang mungkin dirindukan oleh kaum laki-laki. Indahnya hari ini, karena begitu sibuknya menyiapkan segala keperluan untuk ILT, kegiatan ini diselenggarakan di Ponpes Ar-Rahman Jakabaring dimana tempat ini juga tempat ILT tahun 2013 kemarin. Sebenarnya banyak tempat lain yang lebih memadai dibandingkan ini, tapi tak ada yang lebih luas dan nyaman selain Ponpes ini dikarenakan jumlah peserta yang membludak serta jumlah panitia yang juga tak kalah banyak.
Pukul empat sore, semua calon anggota baru diperintahkan untuk kumpul di depan Unsri baik yang ikhwan maupun akhwat. Setelah ashar, aku bersiap mengumpulkan apa saja yang akan dibawa untuk tiga hari kedepan, tak banyak yang kubawa karena berkaca dari kegiatan-kegiatan sebelumnya selain pakaian ganti dua setel, alat mandi, dan pembersih muka. Semuanya lengkap kecuali alat kecantikan (haha),  bagian ini yang selalu di protes ibuku, "anak gadis kok malas ngerawat diri, mempercantik diri, bahkan nyisir rambutpun malas -_-" celotehan ibu yang sering ia lontarkan kala aku di rumah. Aku tak tahu kenapa, bagian ini tak membuatku tertarik, selama muka bersih dari debu dan badan bersih karena mandi semuanya terasa sudah cukup, yang lain masa bodoh. Pernah suatu kali aku beli minyak wangi ala-ala gadis modern jaman sekarang, yang bahkan dipilih oleh sang adik, dipakai hanya mau pergi keluar saja dan itupun kalau ingat. Alhasil itu minyak wangi nggak habis-habis sampai kadaluarsa. (Haha). Tapi aku sadari itu kebiasaan yang tidak bagus apalagi anak gadis, suatu saat nanti mungkin aku akan berubah hehe. Kalau saja aku nggk pakai kerudung, mungkin aku sudah jadi gadis tomboy yang pendiam (emang ada tomboy pendiam, ini versi penulislah karena ia hanya tomboy dalam penampilan saja, hati dan segala perangkatnya masih cewek asli), astagfirullah. Tapi untungnya Tuhan maha Penyayang masih menyayangi hambanya yang satu ini, karena aku dimasukkan di Unsri sehingga harus menepati janjiku padaNya, bahwa jika lulus di Unsri, aku janji untuk pakai hijab, dan اَللّهُ mempertemukan aku dengan kakak dan mbak yang memotivasiku untuk bisa hijrah seperti sekarang ini. الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
Lanjut, setelah sudah siap semua, segera aku melangkahkan kaki keluar asrama menuju rusunawa yang disebelah asrama untuk menjemput adik-adik waki 2013 yang sekarang mulai aktif, ada Anis, Eni, Eli, Vina dan Yani. Ketika sampai di kamar Anis, mereka menyuruhku untuk duluan saja, karena masih ada yang belum dipersiapkan, sambil menunggu adik-adik Maba yang tinggal di Asrama maupun Rusunawa. Baik, aku turuti apa kata mereka, dan memang benar adik maba harus ada yang menghandelnya. Sedikit pesan untuk mereka, jangan lama-lama telatnya.
Walau sendiri, tapi tak menyurutkan langkah ini untuk melangkah ke depan. Di perjalanan, ini handphone tak hentinya berdering, kuhentikan langkah kaki dan kulihat sejenak, apa dan siapa yang dari tadi mengirim pesan ber kali-kali sepertinya mendesak sekali. Dari dek eka sos'14, "mbak dimana? Aku sudah disini", jleb hening sejenak seketika, begitu semangatnya adik ini hingga datang sebelum waktu yang telah disepakati. "Aduh, aku keduluan dah" gumamku lirih. Kubalas pesan singkat itu, "iya dek, mbak la otw, bentar lagi mbak sampai" secepat kilat ku ketikan pesan itu dan terkirim. Setelah terkirimnya pesan itu, otomatis ini kaki dengan gesit nya melangkah.
Huhhhh,, hmmm,, tersengal-sengal nafasku seperti habis dikejar anjing gila. Suasana sore di depan Unsri begitu asri, lapangan yang hijau diramaikan sejumlah pemuda yang sedang bermain bola. Disepanjang pinggir jalan menuju ke gerbang depan dibanjiri oleh mereka yang sedang berlari-lari kecil olahraga ringan. Sampai di depan gerbang unsri, Celingak celinguk kiri kanan mencari sosok adik yang sms tadi, terlihat ada yang dua orang yang sedang duduk-duduk di rumput dengan beberapa koper lumayan besar tergeletak disamping mereka. Sepertinya kenal, lalu kupanggil mereka.
"Hai,, assalamualaikum dek, afwan ya, mbk telat nih, udah lama ya? mana yang lain, baru kalian berdua ya?" Salam kupada mereka.
"Waalaikumusalam, iy mbk dak papo, baru kami beduo nilah mbk " jawabnya dengan logat palembang yang sudah tak asing ditelinga.
"Ini koper kalian?" Pura-pura bertanya hanya untuk memperjelas rasa penasaranku saja.
"Hehe, iya mbk" mereka tersipu malu, sepertinya tahu akan kekagetanku.
"Alangkah besak kopernyo dek, apo-apo be yang di bawa nih, cak nak mudik be, haha" candaanku memecah sunyi.
"Hahaa, mbk nih, dak ado lg yg biso di pakek mb, dak papolah ini jugo barang kami beduo mbk, selebihnyo di tarok di tas kami masing-masing" lugas eka menjawab sedangkan teman yang disampingnya hanya bisa tersenyum mendengarkan. Kubiarkan saja, ini pengalaman pertama mereka jadi wajar saja jika sedikit berlebihan seperti ini.
Perlahan calon anggota yang lain berdatangan baik ikhwan maupun akhwat. Hingga halaman depan gerbang itupun ramai karena jumlah peserta yang hampir 100an lebih itu. Tapi, ada-ada saja yang diluar dugaan setelah semuanya sudah dirancang sedemikian rupanya. Hingga dua bus yang kami pesanpun sudah datang, tapi rombongan panitia akhwat kala itu belum datang juga, mereka yang ditunggu adalah Mona, Dani, Ria dan Sari. Mereka teman seperjuangan telatnya bukan main, sampai-sampai pak sopir sudah berkomentar. Aku telpon Mona, dengan nada yang tinggi untuk menegaskan betapa ketelatan mereka sudah kelewatan. Ternyata mereka sedang menunggu salah satu diantara mereka yang masih beres-beres, kata si Mona sepertinya masih agak lama, sehingga ia menyuruh kami untuk pergi duluan. Huhh, panasnya bukan main ini telinga mendengarnya, karena posisinya yang angkatan 2012 akhwat hanya ada aku seorang, susahnya minta ampun mengkoodinir sebanyak manusia hidup ini dan mereka dengan santainya bisa telat. Menggerutu dalam hati tapi tetap saja terlihat jelas kekesalan itu diwajahku. Akhirnya mereka kami tinggalkan, karena hari sudah semakin sore dan permintaan sopir yang ingin cepat.
 Dua bus itu padat, penuh dan sesak. Bahkan akupun sampai duduk dibagian tengah menggunakan kursi plastik yang telah disediakan dan juga banyak kondektur yang semuanya adalah mahasiswa pertanian berjumlah lima orang, sehingga membuat semakin sesak karena mereka berdiri tepat didepanku sampai bergelantungan didekat pintu tengah bus. Bus berjalan beriringan dengan kecepatan yang cukup cepat untuk porsi bus yang penuh seperti ini. Baru saja melewati persimpangan, lalu belok kanan untuk langsung menuju jakabaring. Tak lama dari itu, bus yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti, tapi aku tak merasa ada yang salah dengan bus ini. Kemudian keluar, dan ternyata bus yang satunya lagi yang mogok. Karena ingin tiba secara bersamaan sehingga kami menunggu bus yang mogok ini sampai selesai dibenahi. Padahal targetnya sebelum magrib sudah sampai ditempat tujuan, ternyata ada-ada saja. Memang benar kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bahkan menit berikutnya. Hanya bisa berdoa, semoga cepat selesai. Sejenak memikirkan teman-teman yang tertinggal tadi, bagaimana mereka bisa menyusul kesini, hari sudah sore, tidak ada lagi bus yang ke jakabaring walaupun ada pasti hanya stop di pamor dan dari pamor mereka naik apa, apalagi mereka akan sampai ketika langit sudah gelap. Ternyata aku mengkhawatirkan mereka, aku takut mereka yang tertinggal tidak jadi berangkat. Aku akan merasa bersalah jika mereka tidak bisa kesini karena tidak ada transport lagi, karena kami membutuhkan ekstra panitia yang banyak, jikalau mereka tidak ada maka berkuranglah separo dari jumlah panitia yang akhwat.
Kegelisahan merasuk di hati kami, magrib sudah lewat beberapa menit sebelumnya, tapi bus ini belum benar juga. Ketakutan akan jadwal yang tidak sesuai sehingga acara akan mulai begitu malam merasuk di pikiranku. Apakah ini akibat aku kesal dengan teman-temanku yang begitu telat sehingga kami harus meninggalkannya. Kupikir ulang, walaupun tadi kami tidak meninggalkan mereka, tetap saja ini bus akan mogok tengah jalan kalau memang sudah ditakdirkan untuk mogok.
Ngengg....
Aungan suara bus memecah kesunyian senja kala itu, artinya bus sudah beres dan kami bisa segera berangkat menuju tempat yang akan menjadi sejarah bagi calon anggota baru waki. Masih sempat untuk sholat di tempat tujuan karena perjalanan sudah tidak lama lagi dan masih dalam kategori waktu magrib. Jalan yang berkelak-kelok semakin membuat gugup, detak jantung berdebar tak seperti biasanya padahal aku sudah pernah kesini dan acara nya pun sama, yang membedakannya adalah kini aku dan kawan-kawan yang mempertanggungjawabkan agenda ini sehingga keberhasilan agenda ini ada di tangan kami yang mengelola. Ini membuatku gugup karena diawal kami sudah telat walaupun kesalahan bukan dari kami tapi dari sarana yang ada.
Langit semakin gelap, suasana hening, kiri kanan rawa yang gelap. Setelah jauh dari jalan kota memasuki jalan sempit menuju Ponpes, dari kejauhan sudah terlihat area yang agak terang karena lampu-lampu rumah yang berada disekitar ponpes. Akhirnya kami sampai dengan selamat tanpa suatu kurang apapun, puji syukur kupanjatkan selalu untuk Maha Pemberi Keselamatan.
Satu persatu turun dengan cepat karena takut tertinggal sholat magrib, seperti biasa aku bagian akhir yang masuk ke dalam Ponpes karena harus mengecek dan memastikan semua barang ataupun orang di dalam bus. Setelah semuanya telah keluar dan tak ada satupun barang yang tertinggal, barulah aku masuk kedalam. Sampai didepan gerbang, aku melihat sesuatu yang mengagetkan sekaligus membuatku terharu. Ada yang mendekat kearahku.
"Lyn, nanti adeknya langsung disuruh masuk ketempat penginapan dan mereka sholat disana atau di aulanya ya!!"
Masih tertegun, apa ku tak salah lihat, itu tadi yang bicara adalah Dani. Iya, Dani. Dani adalah salah satu teman yang tadi kami tinggalkan. Masya اَللّهُ. Allahu Akbar !!! Batinku mengucap tanda syukur dan bahagia haru.
"Dani, kok kamu la disini, cepat sekali, kok bisa, mana Mona, Ria, dan Sari??" Sejurus pertanyaan langsung kuajukan sebagai bentuk rasa penasaran yang seolah ada yang mempermainkan logika ku.
"Iya dong, nantilah kuceritakan, makanya jangan marah-marah" ia mengeles dan merasa bangga karena mereka yang tadinya aku marahin dan kami tinggal ternyata datang lebih dulu dari kami. Kemudian ia berlalu, mengatur dan memerintahkan adik-adik yang masih mengambil air wudhu, ketika itu aku sedang kedatangan tamu sehingga kewajiban itu sedang tak bisa kulakukan.
Karena itu masih terhanyut dengan perasaan sendiri, aku merasa bahagia, mereka tahu akan kesalahan mereka sehingga berbagai cara mereka tempuh untuk datang kesini. Terharu sekali, rasanya ingin menangis, mereka sadar akan tugas dan fungsi sebagai orang yang bertanggung jawab akan agenda ini. Awalnya tadi, aku akan memarahi mereka ketika mereka sampai disini tapi sekarang kenyataannya berbalik, aku ingin memeluk mereka satu persatu dan mengatakan maaf dan terima kasih banyak teman. Aku menyayangi kalian karena اَللّهُ, Tuhan yang Maha Penyayang dan Maha Pengasih yang memberikan rasa sayang dan kasih pada sesama saudara.
Setelah di penginapan, aku dekati mereka dengan wajah yang berseri bahagia.
"Mon, kok bisa datang duluan sih, hehe" terkekeh untuk menutupi rasa maluku.
"Itulah, jangan marah-marah. Kami tadi naik travel, tapi cuman sampe pamor, terus dari pamor naek bentor kesini" jelasnya tanpa basa-basi.
Seketinga mulut ini terbuka terngangah seakan tak percaya, subhanallah, memang naik travel kecepatannya bisa dua kali lipat dari bus, yang tak bisa dipercaya adalah naik bentor dari pamor kesini, itu jauh jaraknya dan pastinya budget yang dikeluarkan cukup mengeringkan kantong karena yang dinaiki adalah bentor (haha).
Tak disadari kami pun tertawa riang, entah apa yang ditertawakan. Mungkin karena sekarang kantong mereka kosong akibat ongkos berkali-kali lipat. Aku sangat menghargai usaha mereka, tapi itu karena ulah mereka sendiri kalau saja tak telat mungkin bisa pergi bareng kami dan hanya mengeluarkan ongkos standar. Tapi, tak jadi masalah yang penting mereka sudah ada disini untuk selanjutnya kita lihat bagaimana اَللّهُ menjalankan takdirnya.
Pembukaan ILT yang seperti biasa dibuka oleh ketum, begitu meriahnya, baru ini sejarahnya aula sebesar itu penuh oleh peserta sehingga separuh panitia tidak masuk dan duduk di luar. Hairun adalah teman sekelasku, kini ia menjadi pemimpin di organisasi yang ku naungi saat ini, dulu tak ada selintaspun kalau beliau yang akan menjadi pemimpin selanjutnya. Mengingat ia yang lebih suka berkecimpung di bemu dari pada lingkungan dakwah ini, tapi Tuhan berkata lain dan punya rencana serta skenario yang tak siapapun bisa menebaknya. Menurut pandanganku, saat ini Hairun adalah pemimpin yang mungkin satu-satunya yang punya kharisma tersendiri bagi kaum hawa dibandingkan pemimpin organisasi lainnya yang ada di Fisip. Tidak menutupi kenyataan bahwa sebagian besar calon anggota waki yang akhwat terpesona dengan pesona Hairun dan bisa jadi menjadi alasan terbesar motivasi mengikuti waki. Astagfirullah. Ini yang buat geleng-geleng kepala serta geli kalau lihat Hairun yang sekarang sudah menjadi Top model di waki (haha).-_-
Rutinitas seperti biasa layaknya sedang dauroh (pelatihan), bangun pagi untuk sholat tahajud, kemudian almatsurat bersama, lalu perkenalan antara panitia dan peserta sebelum akhirnya sholat subuh berjamaah. Setelah selesai, kami beri mereka kesempatan untuk membersihkan diri mereka masing-masing sampai pukul 06.00.
Suasana pesantren yang begitu damai di pagi hari, semuanya hilir mudik melakukan aktivitas mereka sebagai santri. Sinar cahaya mulai menyinari kawasan pesantren sehingga aku bisa melihat dengan jelas bagaimana keadaan sekitar yang semalam tak bisa terlalu melihat karena gelapnya malam. Banyak yang berubah disini, ada bangunan baru seperti aula yang sekarang kami tempati yang satu tahun lalu belum ada. Tata letak kolam dan segala pemandangannya jauh lebih baik dan indah dipandang daripada sebelumnya. Tepat didepan aula ada dua kolam yang terpisah yang dipisahkan oleh jalan setapak, sayangnya tidak ada teratai yang tumbuh dan berbunga seperti tahun kemarin kami disini.
Hari kedua berjalan dengan lancar, peserta sepertinya puas akan materi dan pembicara yang kami persembahkan untuk mereka. Dilihat dari antusias mereka bertanya dan serius dalam memperhatikan pembicara.
Menjelang malam kedua atau malam terakhir dan bisa jadi malam yang menegangkan bagi para peserta. Karena manajemen konflik dilakukan pada malam ini. Manajemen konflik adalah suatu rekayasa keadaan dimana ingin menge-tes kemampuan mereka dalam menyelesaikan masalah serta mengendalikan emosi yang tercipta. Kalau mengingat malam ini, aku jadi malu sendiri (haha).
Sudah hampir tengah malam, suasana semakin menjadi tegang karena pembahasan tata tertib yang tak menemukan titik kesudahan ditambah ada masalah salah satu peserta ikhwan yang kehilangan hp (rekayasa). Disini mulai bermain, para aktor yang biasa berakting mulai beraksi jjiaahh, termasuk aku ikut terlibat disitu. Melihat keadaan waktu itu, komdis yang begitu lemot dan kurang tegas dalam menyikapi keadaan yang mulai memanas. Seketika saja ini mulut langsung teriak-teriak sambil ini tangan nunjuk komdis yang di depan, menuntut ketegasan komdis, karena malampun makin larut persoalan belum menemukan titik cerah. Suara melengking bak klakson sampai sakit tenggorokan, kaki pun jadi lemas, semua orang yang ada di dalam aula seketika diam dan suasana menjadi sunyi, padahal ini cuman rekayasa saja tapi seolah-olah beneran. Betapa orang melihatku dengan wajah ketakutan dan ngeri, ada yang menangis, ada yang kesal dan marah, tapi ada juga yang melihat dengan kagum karena posisinya aku membela peserta dan menyalahkan komdis. Suasana jadi dingin setelah kejadian itu, kemudian komdis tiba-tiba minta maaf dengan gaya seperti ngelawak, spontan yang mendengarkan pun ikut geli dan tertawa padahal tadi dimarahin habis-habisan tapi dibalas dengan lelucon. Itu bocah belum berpengalaman akting kali ya, jadi kesal sendiri aku melihat tingkah komdis di depan, mereka jadi kikuk, mungkin menganggap aku marah beneran padahal ikut alur rekayasa. Hadeeh-_-"
Tiba-tiba ketum maju ke depan, bak seorang pahlawan ‘kemaleman’ yang menengahi sebuah persoalan. Ketika itulah semuanya dibongkar bahwa apa yang kami lakukan adalah sebuah rekayasa manajemen konflik termasuk hp yang hilang tadi, sampai-sampai ingin dilaporkan ke polisi. Semuanya ricuh, suara-suara berontak tak terima karena dipermainkan menggelegar serta suara tangis menjadi tawa, semuanya bertepuk tangan. Malam ini diakhiri dengan bahagia dan sedikit dongkol dari para peserta yang dari pagi sudah sengaja dimarahin sampai malam.
Semuanya tidur dengan lelap karena memang sudah tengah malam dan mereka akan dibangunkan lagi dua jam kemudian. Tapi tidak dengan panitia, beberapa panitia memang sudah ada yang tidur dan sebagian lain menyiapkan acara jurid nanti, akibat aksi ku di aula tadi, aku jadi bahan tertawaan bagi mereka, apalagi dek eni yang mengejek suara lengking ku tadi. Aku pun jadi malu, ini pipi rasanya seperti di panggang, kalau lagi marah ini suara bisa jadi halus dan melengking menusuk telinga, memang seperti itu mau diapakan lagi. Kalau diingat, itu tindakan spontanitas, aku malu bukan main, ini bukan aku, aku biasanya tak bisa berkutik kalau sudah jadi tontonan tapi kali ini malah semakin membuatku beraksi.
Ya ampun, bila dipikir-pikir sudah banyak perubahan di dalam diri ini. Karena lingkungan dan tuntutanlah yang bisa merubah sikap seseorang. Perubahan yang harus aku jalani demi kemajuan gerak dakwah ini. Walau berbeda dari kebanyakan akhwat biasanya yang lembut tutur katanya, yang gemulai tindakannya dibandingkan aku. Ya اَللّهُ, kalau bicara seperti marah, kalau bertindak seperti laki-laki geraknya brutal dan cepat. Padahal bicaranya biasa saja tak ada maksud ingin marah atau apa, tapi yang mendengarkan berbeda persepsi. Mungkin aku harus privat gaya bicara agar impianku tercapai sebagai wanita pejabat, yang kalau bicara halus tapi menekan, nah sebenarnya itu yang kulakukan tapi mereka belum menerima akan sikapku yang seperti itu. “Enjoy”, lirihku untuk menyemangati diri sendiri, selagi masih muda dan single, apapun bisa dilakukan sebagai pelajaran dan pengalamanan yang berharga.
Mengendap-endap layaknya seorang pencuri, menyelinap masuk ke dalam aula dimana semua peserta tidur di dalam sana. Mereka akan dibangunkan satu persatu dan sebelum mereka membuka mata, mata mereka harus sudah ditutupi slayer yang mereka kumpulkan tadi siang. Panitia kesulitan karena peserta akhwat sangat banyak dibandingkan panitia, untuk membangunkan mereka secara diam-diam, memerlukan waktu yang cukup lama. Pukul 02.00 dini hari, waktu yang memang agak dicepatkan karena mengingat jumlah peserta yang banyak.
Hening malam, langit cerah bertabur bintang, dingin malam serta suara-suara malam yang khas menjadi latar jurid malam ini, semuanya dikumpulkan secara terpisah satu persatu dengan mata tertutup di halaman dekat kolam, jarak antar peserta kurang lebih dua meter. Sehingga halaman itu dipenuhi oleh manusia-manusia setengah sadar. Panitia yang jahil mulai beraksi, tidak seperti tahun kemarin kali ini mereka cukup kuat mental menahan rasa takut yang menyelinap di hati. Ini mengingatku pada tahun ILT 2013 lalu, dimana dek vina menangis sejadi-jadinya dan ketakutan akibat ulahku, benar-benar di luar dugaan, aku hanya menakuti seperti yang lain, tapi memang sih ada kejahilan yang seakan-akan itu beneran, sehingga dek vina meronta-ronta memegang tanganku dengan kuatnya. Alhasil aku jadi kesalahan panitia lainnya, karena sudah mempermainkan anak orang diluar batas.
Kali ini, mereka semua tak ada yang seperti dek vina dan memang aku lagi malas beraksi. Tapi mereka semua menangis sejadi-jadinya ketika muhasabah yang dipandu oleh dek tara, ku sudah menduganya bahwa dek tara akan berhasil melakukannya dan ternyata memang benar. Semuanya terharu dan mungkin merasa bersalah akan perbuatan mereka selama ini. Ku lihat bukan saja peserta yang menangis tapi beberapa panitia yang lembut hatinya juga ikut menangis. Setelah muhasabah selesai dan di akhiri dengan setiap peserta menuliskan wasiat terakhir mereka untuk kedua orang tua masing-masing. Pukul 04.00, masih sempat untuk qiyamul lail, sehingga sebagian mereka mengambil wudhu di depan gerbang, sambil lalu mereka mengumpulkan slayer yang dikumpulkan kepadaku, semuanya basah oleh air mata atau bisa jadi air yang keluar dari hidung (Hihi). Ketika sibuk mengumpulkan slayer, terlihat ikhwan baru bersiap untuk melakukan jurid malam, ya ampun sepertinya mereka kesiangan, kami sudah selesai, mereka baru mau beraksi. Atau memang sengaja dilakukan jam segitu. Wallahu alam.
Suara ayam terdengar keras di alun-alun ponpes, celah-celah sinar mulai mengintip di kegelapan. Santri dan santriwati mulai beraktivitas, serta orang-orang rehabilitasi yang tepat disamping penginapan akhwat. Mereka pun berbondong-bondong melakukan aktivitas masing-masing. Sekilas terlihat menyeramkan tapi mereka adalah orang-orang yang ingin hijrah dari kehidupan masa lalu mereka. Semoga mereka melihat titik terang itu dan dapat menjalankan kehidupan normal seperti sedia kala.
Hari terakhir disini, semua terlihat bahagia karena hari ini kami akan bersenang-senang. Outbond dan bermain games air. Sudah beberapa tahun ILT tidak main air untuk yang akhwat, maksudnya masuk kedalam kolam lumpur langsung. Kali ini kami akan mewujudkannya. Kami punya sebuah nama untuk pengurus angkatan 2012 yaitu Gelas KECE "Generasi 2012 Keren dan Cendekia" mungkin terlihat agak angkuh, tapi sepertinya itu nyata dan kami akan melakukan yang sesuai dengan nama kami itu. Salah satunya, di angkatan inilah jumlah peserta terbanyak dan kali ini kami menciptakan outbond terseru akhwat.

Tak ada kata yang bisa mengungkapkan kebahagian, sesuatu yang berat bisa diselesaikan secara bersama-sama dengan modal kepercayaan, kekompakan, dan saling pengertian. Bergerak bersama, saling bahu membahu, saling menguatkan satu sama lain. Semuanya itu karena ikatan ukhuwah, ukhuwah yang sudah masuk ke aliran darah ini. Semuanya saudara tanpa melihat status dan hubungan. Aku ingin hubungan kita dapat membawa berkah hingga pertemuan di akhirat. Tak ada yang lebih membuat tentram selain kebersamaan ini. Meski kita akan berpencar kembali, meniti jalan masing-masing, ku ingin kalian mengingat kebersamaan kita sebagai memori yang tak terlupakan. 

Monday, January 5, 2015

Part #4 Dia yang Pertama


Diawal sudah sekilas kuceriitakan bahwa aku mempunyai seorang partner yang menemani, menasehati, menolong, serta bahu membahu dalam mengemban tugas berat dakwah ini, yang bahkan gunung pun akan menolak jika diberi sebuah tugas berupa amanah. Sebelumnya tak pernah menyangka bahkan tak pernah terlintas bahwa dirinya-lah yang akan menjadi rekan kerja diri ini. Mungkin kalian akan menganggap ini sebuah kelebay-an (haha), karena tidak hanya dalam organisasi, bahkan teman kelompok belajar-pun bisa dibilang adalah partner, atau teman bermain yang cukup dekat juga bisa disebut partner. Tapi istilah ini bagiku berbeda, karena sebelumnya aku belum pernah menjalani sebuah organisasi sampai selesai, belum pernah mendapatkan seorang partner yang resmi dalam suatu instansi (wajihah) dan baru mengerti juga bahwa ada istilah partner dalam menjalankan kerja suatu organisasi.
Dimulai dari maret 2014 lalu, ketika itu raker waki setelah beberapa minggu dari SA yang ke XIV, sebelum raker aku sudah diberitahu oleh kakak sebelumnya bahwa selama mengemban amanah di waki, aku akan bekerja sama dengan beliau. Dia mahasiswa jurusan sosiologi, satu angkatan denganku, kuberi nama inisial yaitu Muhammad.
`           Awal di waki, sebenarnya aku tak tahu siapa-siapa saja ikhwannya yang aktif termasuk dia, dan memang sengaja tak mencari tahu karena memang adem ayem dan tak ada sosok yang menonjol dikala itu (menurut saya hehe). Aku baru tahu, kalau dia juga seorang aktivis dakwah dan termasuk salah satu kader yang aktif di waki sejak agenda SA lalu. Memang setelah mengetahui aku dipartnerkan dengan beliau, rasanya syok, kaget, dan tanda tanya??? Kok bisaa sihh..
Sempat khawatir bagaimana memulai komunikasi dengan beliau, karena sebelumnya belum pernah berkomunikasi atau aku nya saja yang tidak ingat, baik secara langsung maupun lewat media sosial (fb, sms, email, telpon dll). Sayangnya aku tak ingat juga, siapa diantara kami yang memulai komunikasi ini.
Sempat pesimis bahkan terlintas bayangan bahwa kerja kaderisasi ini akan stagnan ataupun mengalami kemunduran dari tahun sebelumnya, dikarenakan aku melihat sosok yang pendiam dalam dirinya, dan begitu juga aku pada waktu itu. Sama-sama pendiam, aku bingung akan bagaimana memulai langkah ini. Sehingga setelah berjalan beberapa minggu kerja dengan beliau, aku merasa ini tak akan berhasil jika aku yang harus menunggu, aku yang masih pemalu, masih sangat cuek dan begitu dingin dengan keadaan sekitar. Sangatlah tidak mungkin bisa berjalan baik dengan orang yang hampir sama saja bentuknya denganku seperti itu.
Sehingga aku memberanikan diri untuk mentransformasikan diriku untuk berubah. Dibekali dengan banyak membaca buku yang berkaitan dengan ranah kerjaku, banyak bertanya bahkan bisa disebut kepo pada kepengurusan sebelum dan sebelumnya, bahkan mengejar-ngejar mereka yang kini sudah tidak berkecimpung lagi dalam wajihah. Mengapa aku bisa bertekad untuk merubah diriku, karena sebuah amanah inilah yang mengharuskan aku untuk berubah. Pantang bagiku, jika aku tidak bisa memperoleh hasil yang membanggakan, bila aku sudah memilih untuk menjalaninya, aku bisa menjadi seorang sangat pekerja keras dan melupakan hak tubuhku bila aku sudah punya keyakinan kuat pada hal itu, bahkan sangat bersungguh-sungguh jika menjadi jundi yang qiyadahnya bisa menghargaiku. 
Dengan bekal yang kurasa cukup untuk memulai transformasi ini, perlahan watak dan sifat yang ternyata selama ini terpendam dalam kawah akhirnya mencuat ke permukaan. Seorang akhwat yang mulutnya seakan api yang berhembus. Otak, mata, telinga, kaki, tangan semuanya bergerak cepat dari sebelumnya bahkan tak terkendali. Sampai pernah suatu kali, saking ingin bergerak cepat sampai tak bisa menunggu aba-aba dari beliau yang status kedudukannya berada diatasku. Semuanya bergerak cepat kecuali hati, rasa atau perasaan yang bergerak lambat, yang kala itu kusampingkan bahkan kusingkirkan jauh-jauh sehingga yang terlihat hanyalah sebuah bentuk kekejaman atau kesadisan, walau-pun itu baik pada akhirnya tapi yang mereka tahu hanyalah sebuah bentuk amarah dan kekejaman belaka.
Sebenarnya jati diriku yang seperti ini sudah ada sejak aku kecil, aku mudah kesal dan marah jika melihat orang melakukan pekerjaannya begitu lambat yang bagiku itu tidaklah sulit. Aku tak bisa menunggu lama, jika ada suatu hal yang ingin ku rundingkan tapi malah mendapat respon yang lambat, tak sesuai harapan atau bisa jadi tak ada respon sama sekali, walau pada akhirnya diketahui alasan beliau tak ada pulsa dan sebagainya. Aku akan merasa ilfell, bila mana seseorang itu mempunyai nyali yang cukup ciut dibandingkan aku yang seorang wanita bahkan bisa mengambil resiko yang cukup membuat diri ini kewalahan. Dan yang ini sangat sering terjadi, bahkan sejak kecil, bila mana sudah bisa atau sudah mengerti pada suatu hal, aku akan dengan sigapnya memerintah ini dan itu, mengambil posisi sendiri dimana aku yang memberi aba-aba agar dapat sesuai seperti yang diharapkan.
Semuanya itu sekarang benar-benar sudah menyembur dan mengenai siapa saja yang berada didekatnya, bagaikan air yang muncrat kemana-mana, dan pastinya partnerku pasti sangat merasakan air panas yang keluar dari dalam kawah itu.
Setelah kusadari, lama kelamaan dan waktupun bergulir seirama, semakin kuperhatikan, beliau mungkin hanya bersifat zuhud pada dunia, beliau begitu sederhana, menjauh dari keasikkan dunia, meminimalisir setiap tindakan yang berasal dari hawa nafsu, setiap gerak ia selalu merenungkan apa efeknya bagi kemajuan dakwah ini.
Setiap rapat, pastilah ada saja api yang keluar dari mulut ini dan pastinya tertuju pada dirinya, tapi ia selalu mencoba untuk bersikap tenang, dan membalasnya dengan nasehat-nasehat yang terkadang begitu mengena pada diri ini, yang awalnya ingin marah dan protes akan kerja-nya yang kurang memuaskan, tapi pada akhirnya selalu aku yang merasa bersalah setelah mendengarkan nasehat yang berasal dari alquran dan hadist nabi yang ia sampaikan dengan sabar dan lembut.
Ternyata mendekati di akhir kepengurusan, barulah keluar sifatnya yang terkadang bisa membuat orang tertawa, ia bisa membuat lelucon yang bahkan itu bukan lelucon tapi hal-hal yang dibahas dan tak tahu mengapa itu bisa jadi lucu karena dia yang membawakannya, bahkan pada saat rapat di akhir-akhir kepengurusan, kami yang akhwat lebih banyak tertawanya dan aku yang sering marah bahkan wajah ini bisa dilipat-lipat ketika marah ternyata bisa tertawa geli sampai lupa hal apa yang akan dibahas dalam rapat.
Sungguh, aku tak menyesal bahkan sangat bersyukur atas apa yang terjadi setelah diriku dipartnerkan dengan sosok seperti beliau. Aku sudah melupakan bentuk-bentuk dari sisi beliau yang bisa membuatku darah tinggi, kini yang kuingat dan bisa kuambil hikmah dalam perjalanan kerjasama ini adalah sikap zuhudnya, ketenangan, kesederhanaan, nasihat-nasihatnya serta lelucon yang ia buat tanpa sadar. Sisi positif dari beliau kuambil dan kujadikan salah satu pelajaran hidupku yang sebentar ini. Bahkan sekarang ketika melihatnya, ia mengingatkanku akan kehidupan di akhirat.
Sebagai bentuk terimakasih dan maaf dariku, aku kasih ia sebuah hadiah yang kala itu pas pada moment ia milad. Ingin kutulis surat untuknya bahwa aku hanyalah manusia biasa yang sangat jauh dari kata sempurna, aku mohon maaf padamu beribu-ribu maaf atas sikap dan tingkah lakuku selama menjadi partnermu dan beribu-ribu terima kasih atas kesediaanmu bertahan dengan sosok seperti aku ini. Itulah yang ingin kutuliskan, tapi tak jadi, karena begitu malu dan tak punya nyali mungkin gengsi yang terlalu tinggi hingga menutupi rasa yang sebenarnya tidak apa-apa diucapkan sebagai seorang sahabat. Dan itu kedua kalinya aku memberi hadiah kepada sahabat laki-laki, yang pertama nanti ada sesi ceritanya sendiri (hehe).
Sekarang ikatan kerjasama itu berakhir sudah, setelah berakhir kamipun tak pernah berkomunikasi lagi dan baru sekarang aku merasa betapa berharganya nasihat yang ia berikan dikala orang-orang memilih menjauhiku ketika diri ini lagi tidak stabil.

Pesan untukmu partner pertamaku, jadilah dirimu sendiri, berilah keyakinan dan kepercayaan pada dirimu sendiri bahwa kau pasti bisa, kau bisa, dan kau bisa bila kau mau melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tak perlu membandingkan dirimu dengan yang lain, tetap fokus pada tindakan kebaikan yang telah kau jalani selama ini. Semua manusia itu sama dimata tuhan, yang membedakannya hanyalah ketaqwaannya. Maka pilihlah ketaqwaan itu dari pada hal yang menipu didunia yang fana ini. 

Part #3 Mata-mata yang Melotot


Hari pertama PK2 berlalu dengan agak menegangkan, dimana diakhir acara seperti biasa anak-anak Fisip mencari ulah, sudah datang paling terlambat setelah makan siang dan kini membuat ricuh untuk segera cepat dipulangkan. Baru lewat sedikit saja dari pukul empat sore, mereka mengamuk layaknya singa yang dibangunkan, padahal Fisip yang paling telat datangnya. Dengan alasan kesorean, takut macet dijalan yang pulangnya ke Palembang bla.bla.bla. Alasan yang tidak rasional sebagai mahasiswa. Emang Fisip doang yang mahasiswa nya ada yang pulang ke Palembang. Terkadang malu jika ada yang bertanya, siapa itu yang membuat ricuh.

Hari selanjutnya, aku telat tapi masih dibatas pemakluman. Tapi yang terjadi, mereka semua sudah kumpul berbaris di halaman Fisip dan yang dari Palembang juga. Ternyata mereka datang tepat waktu berarti sangat pagi sekali, kuakui kali ini panitia yang dari Palembang begitu cekatan dalam efisiensi waktu. Tak ada yang special di hari ini, semuanya mengalir begitu saja. Hanya beberapa yang bisa kami lakukan untuk dakwah ini, seperti sholat tepat waktu, menghindarkan mahasiswa baru dari tangan-tangan jahil senior lainnya, dan dengan bersikap manis pada mereka sudah menyumbangkan sedikit kinerja untuk dakwah ke depan, walau efek dari usaha dan upaya tidak secara langsung terasa. Tapi akan indah pada waktunya.

Di siang hari, aktivitas sudah agak mengendur tapi begitu ramainya di mushola, terlihat semua para perempuan berbondong-bondong untuk menunaikan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Tapi banyak juga yang sekedar duduk-duduk di halaman sedang menikmati makan siang sambil bersenda gurau dengan teman sebaya maupun kakak seniornya. Tempat sholat laki-laki dipisah dengan perempuan, laki-laki disediakan tempat sholat di ruang Ilkom yang baru dan jika mereka mau bisa langsung sholat di masjid Al-Ghazali saja. Sedangkan yang perempuan tetap di Mushola Al-Islah Fisip dengan tirai hijab dibuka sehingga area ikhwan bisa digunakan agar dapat menampung banyaknya perempuan yang setiap tahun semakin banyak dari pada laki-laki.

Music berdendang lagi, ada pula yang bernyanyi dan menyanyikan lagu dangdut yang lagi trend sekarang ini. Pikirku, “apakah mereka tak tahu bahwa ini waktunya sholat, naudzubillahminzalik”. Sebisa mungkin aku berupaya untuk menghentikan mereka, melalui ikhwan. Aku minta tolong kepada mereka untuk bisa bernegosiasi dengan pihak orgen itu, untuk mengehentikan sejenak aktivitas panggungnya. Tapi sepertinya tidak berhasil, tak ada yang berani untuk bersikap tegas dan sedikit keras pada mereka padahal ini hal yang bersifat sangat penting, yaitu keheningan dalam sholat. Aku berdoa “semoga penerus dakwah setelah angkatanku ini akan muncul sosok-sosok pemberani yang mampu memperjuangkan dan memperlihatkan identitas mereka sebagai seorang muslim sejati, dan sosok demonstran yang mampu mempertahankan kejayaan Islam”, ku aamiin kan dalam hati.

Walau aku tak menjadi Kp (kakak pembimbing) dikarenakan aku sebagai panitia sie acara yang tak boleh merangkap menjadi Kp, aku patuhi aturan itu dan memang tak berminat jadi Kp. Sedang tubuh ini tak sekuat yang terlihat, butuh istirahat yang cukup apalagi tubuh bagian bawah yaitu kaki. Apalagi tugas Kp adalah melayani, mengikuti dimana gerak Maba dan menjaga keamanan setiap kelompoknya. Bersyukur aku terlepas dari beban itu. Sehingga aku bisa bergerak bebas kesana kemari layaknya burung camar memantau secara keseluruhan kegiatan itu.  Setiap ada kesempatan, aku luangkan waktu untuk berkeliling di sekitar area tenda agar bisa melihat lebih dekat aktivitas yang terjadi disana sekaligus mengeksiskan diri -_-..

Melangkahkan kaki, dari mushola tercinta hingga ke tenda yang berada dilapangan parkir belakang. Seakan-akan berjalan di karpet merah, dan dikerumuni para fans nya. Bagaimana tidak, seolah-olah aku adalah bidadari yang turun dari langit hingga semua orang tak bisa mengedipkan matanya walau sedetik, melihatku dari awal langkah kaki sampai pada hujung jalan. Atau lebih tepatnya seperti buronan baru lepas yang akan menyebarkan virus mematikan, sehingga perlu diawasi dengan tatapan seolah mata itu akan keluar dari tempatnya. Mata-mata yang melotot itu selalu membayangiku disetiap gerak langkahku, aku kesini maka akan segera diikuti, aku kesana ada pula yang menjaga dengan tatapan tak kalah seramnya. Bukannya aku takut dengan apa yang mereka lakukan, justru aku menjadi malu dan sedikit bangga ternyata diri ini menjadi sesuatu yang harus mereka singkirkan bahkan bisa jadi untuk dilenyapkan. Tak ada kekuatan apapun dalam diri ini, tapi seakan-akan mereka takut jika aku bergerak maka dimana tempat aku berdiri akan bisa kukuasai bisa dibilang bisa kukondisikan dengan baik. Sehingga harus dipantau 24 jam agar aku tak bisa menjalankan misiku dengan baik.

“Wah.wah jadi grogi aku melangkah, tapi tak apa, emang aku salah apa sehingga diperlakukan seperti ini, harus stay cool, tunjukan bahwa kamu bukan akhwat yang biasa tapi luar biasa, hingga mereka harus berupaya sekuat tenaga untuk mengendalikanku” kata-kata penyemangat itu timbul dengan sendirinya didadaku. Karena tak ada yang menyemangatiku saat ini, semuanya sibuk dalam urusannya masing-masing. Tak ada yang bisa menyalahkannya jika semuanya melakukan tugas mereka dengan bersungguh-sungguh. Sangat disayangkan bahwa si Hardi, Ia lebih memilih jadi Kp padahal dia juga sie acara. Ia pura-pura lupa atau memang tak peduli akan tujuan awal menjadi panitia ini, sedih sekali bahkan Ia lebih bersemangat bersenda gurau dengan adik Maba kelompoknya yang seluruhnya itu perempuan, iya Ia kebagian kelompok yang isinya perempuan. Ia baru muncul pada saat PK2 saja dan itupun melenceng dari tugas di awal yang selalu Ia bilang iya yang artinya Ia menyanggupi tugas itu. Sempat kudekati untuk mencari tahu apa yang terjadi pada diri beliau, kenapa bisa seperti itu. Melalui sms, aku pura-pura bertanya “Har, bagaimana perkembangan opdik nih ? sudah berkomunikasi belum dengan Pj acara nya ?” pura-pura tidak tahu terkadang menjadi senjata ampuh untuk menggali informasi.

Jawaban yang kuterima sungguh menyesakkan dan kurasa jawaban itu tak pantas keluar dari mulut seorang aktivis. “aku tidak tahu, selama ini aku benar-benar tidak mengetahui informasi yang beredar selama Pmb maupun opdik ini.” Seakan ada geledek dan kilat yang menyambar melalui layar ponsel ku. Apakah ini benar-benar balasannya, apakah kami terlalu memaksanya lebih tepatnya aku, seingat yang ku tahu, ini aku tak tahu yang lain bahwa sangat jarang bahkan tak ingat apa aku pernah menghubunginya sejak Pmb kemarin. Haruskah dakwah menanggung orang-orang yang seperti ini, “semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepadanya, sebagai manusia aku sudah menjalankan kewajibannku untuk menyeru dan selebihnya Allah yang menentukan” lirihku dalam hati.


Setelah dari itu, harapan menjadi pupus karena tak ada lagi orang-orang yang bisa dihandalkan untuk bisa berbaur ke tengah-tengah mereka. Hardi sudah mengundurkan diri dari peperangan ideology ini (setidaknya itu yang aku tangkap dari tingkahnya), Husnu sampai detik ini pun, tak kunjung keliatan. Hairun, masih dikampungnya dan masih sakit akibat operasi hingga detik ini pun aku tak menghubunginya, karena tak ingin mengganggu konsentrasi kesembuhannya, karena pastinya banyak yang ingin kuceritakan padanya, dan kabar tentang operasinya pun aku tahu dari akhwat-akhwat lainnya. Tinggal satu lagi yaitu tak lain dan tak bukan adalah partnerku Muhammad, tapi Ia bukan tipe orang yang bisa menyusup ke tengah bara api, bahkan dari gayanya pun sudah ketahuan ia Adk tulen, bukan berarti aku menyepelehkannya tapi ini tidak sesuai dengan bidangnya di syiar sedangkan yang dibutuhkan adalah orang-orang yang bergerak dan paham akan pergerakan setidaknya. 

Part #2 Kami Membutuhkamu Ikhwan, Dimana Kalian?


Seminggu sebelum perkulian diaktifan, kami disibukkan dengan agenda besar setiap tahunnya. Bukan hanya Fisip tapi ini agenda tahunan Unsri yaitu PK2 atau yang dikenal dengan sebutan Opdik Mahasiswa Baru. Dimana yang menjadi panitia dalam acara ini adalah angkatan 2012, memang sudah menjadi tradisi bahwa yang meng-opdik mahasiswa baru ialah kakak tingkat dua tahun diatasnya. Mungkin ini tradisi hanya di Fisip, karena ada fakultas lain yang punya aturan berbeda contohnya di fakultas Teknik, yang meng-opdik angkatan baru ialah angkatan satu tahun diatasnya. Tak menjadi masalah siapa yang meng-opdik tapi ini adalah angkatanku yang bekerja, yang membuat diri ini harus bergerak cepat dan sigap menanggapi isu yang beredar serta memasang telinga setiap saat untuk mendapatkan informasi dari dekanat maupun rektorat guna memperlancar agenda Opdik 2014.

Di hari pertama PK2 masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya yaitu pembukaan PK2 secara serentak di auditorium. Dalam sehari memperkenalkan kampus Unsri secara keseluruhan serta meresmikan agenda PK2 yang dilakukan oleh bu Rektor sendiri.

Pagi hari bahkan sangat pagi, aku dan teman-teman lainnya yang berada di Asrama yang juga sebagai panitia PK2 untuk fakultasnya masing-masing. Sudah bersiap berangkat ke Auditorium. Untuk mempersingkat waktu kami beramai-ramai menggunakan jasa angkutan umum bewarna kuning yang sudah standby di depan rusunawa, walau angka jarum jam di kamarku menunjukan pukul 06.00 tapi ini sudah termasuk terlambat, karena biasanya di hari pertama ini mahasiswa baru datang sangat pagi sekali. Mungkin karena ini acara pertamanya sebagai mahasiswa, sehingga semangat untuk datang-pun tak dapat dipungkiri membludak.

Dari kejauhan-pun sudah terlihat segerombolan yang mengumpul di depan Audit dengan jas yang sama bewarna kuning khas Unsri. Setibanya disana, langsung saja tanpa aba-aba komando lagi, aku mengangkat papan nama yang kubawa bertuliskan FISIP yang kubuat semalaman suntuk sebagai alat untuk memandu Maba Fisip agar berkumpul di tempat yang telah ditentukan.

“Fisip… Fisip… Fisip…!!!” teriaku melengking di tengah keramaian itu.

Tak lama dari itu, ada seseorang memegang lenganku dan berkata,

“kak..kak.. Fisip ya,, kumpul dimana kak?”

“O,iya mari ikut kakak!”

Terlihat dari gaya bicara dan style pakaiannya yang putih hitam, jelas sekali bahwa Ia adalah mahasiswa baru. Sebenarnya akupun tak tahu dimana kumpulnya Fisip ini, karena dari tadi berkeliling ternyata belum ada satupun panitia yang datang, ada sih tapi itu temanku satu organisasi namanya Dina. Aku dan Dina lalu berpencar untuk mencari massa Fisip. Agak sedikit kecewa bahkan untuk agenda sebesar ini pun teman-teman susah sekali untuk datang tepat waktu, dan ada rasa senang juga ternyata yang datang duluan adalah orang-orang yang berkecimpung dalam satu organisasi yang aku ikuti di Fisip yaitu Waki.

Sekilas menjelaskan.

Waki, singkatan dari Wahana Kerohanian Islam. Salah satu badan otonom di Fisip yang bergerak untuk menyebarkan dakwah di Fisip. Orang-orang yang berkecimpung didalamnya dikenal dengan sebutan anak-anak rohis atau anak-anak mushola atau lebih kerennya dengan sebutan ADK (Aktivis Dakwah Kampus).  Sudah hampir dua tahun aku berada didalam lingkarannya. Susah duka, suka cita sudah pernah aku rasakan bersama keluarga waki, bahkan di semester ini puncaknya ikatan ukhuwah itu.

Kembali ke PK2, karena tak tahu dimana tempat berkumpulnya Maba Fisip dan sepertinya belum ada yang berkumpul dan mengarahkan. Bagaimana tidak panitia yang datang saja baru dua orang, aku dan Dina. Kemudian mengambil keputusan sendiri, dengan cepat aku bergerak mengambil posisi di lapangan yang tak jauh dari sebelah kiri auditorium dari jarak beberapa meter kiri ke kanan sudah aku batasi. Dengan layaknya seorang kakak senior dengan tegas aku berkata agak sedikit berteriak agar Maba yang lain bisa mendengar.

“Dari sini sampai situ adalah tempat mahasiswa Fisip, ayo yang Fisip segera membuat barisan, tiga baris cewek sebelahnya tiga baris cowok.. cepattt” ku ayunkan tangan ini menunjukan batas mana mereka harus berdiri.

Segera mereka berbaris berbondong-bondong. Terlihat sang mentari telah bersinar terik, mengisyaratkan bahwa pagi telah beranjak. Kulihat di sekeliling, semakin banyak manusia-manusia yang datang, barisan mahasiswa fisip pun telah padat. Mereka agak merasa berdesakkan karena mereka diapit oleh Maba Mipa dan Maba Fkip. Segera kuatur kembali barisan itu dan mengharuskan aku untuk mengeluarkan suara kerasku.

“Tolong kalian yang bukan Fisip, agak bergeser sedikit. Beri jarak antara Fisip dan Mipa. Ayo cepat..” dengan sigap lanjut kesebelah sana. “yang ini juga antara Fisip dan Fkip agak diberi spase, yang dibelakang maju kedepan membuat barisan baru biar tidak menjolor ke belakang” kata demi kata aku lontarkan dengan agak keras pada mereka sambil berkeliling mengitari mereka biar semuanya mendengar aba-aba dariku.

 Tenggorokan sudah terasa kering, mulut pun terasa sakit digerakkan. Berangsur-angsur panitia yang lain pun datang, panitia ini semuanya berasal dari angkatan 2012, tapi ada juga kakak tingkat diatas kami yang membawa nama Bem Fisip. Hampir semuanya berasal dari satu angkatan, membawa nama angkatan, tapi pada nyatanya tidak, kebanyakan dari mereka membawa nama organisasi mereka masing-masing sehingga gerakpun menjadi terbatas karena mengandalkan kelompok masing-masing. Walau aku bergerak dalam misi dakwah, membawa nama waki, tapi aku mencoba professional dan berbaur dengan mereka semua. Belum saatnya Maba tahu apa yang kubawa, biarlah mereka melihatku sebagai kakak senior seperti yang lainnya tanpa membawa embel-embel di belakangnya.

Berdiri ditengah keramaian, kulihat teman-teman waki lainnya pun datang, ada Salma, Fitri, Mona, Rini, Sari, Ria, Dani, Maya, Ary dan juga Dina. Termenung dan menyadari bahwa mereka semua adalah akhwat. “Kemana Ikhwan ???” dalam hatiku menggerutu, “kemana mereka di saat momentum ini ada di depan mata?. Kemana mereka disaat dakwah ini membutuhkannya? Kemanaaaaa?” Nafasku terasa sesak dan pendek, mata pun sudah berkaca-kaca.
Ada putra dan juga ali, aku tahu mereka adalah anggota waki, tapi pada saat itu, ke-adk an mereka tak mau orang-orang lain tahu. Entah karena malu menjadi aktifis dakwah, atau tak mau dikucilkan dan ditinggalkan sebagai teman dari pihak-pihak kiri lainnya atau sengaja disembunyikan agar bisa menyusup. Memang berat menjadi aktifis, apalagi aktifis dakwah, harus siap mental karena tidak semua orang bisa menerima dengan tangan terbuka untuk dakwah yang dibawa ditambah jaman yang semakin global.

------

Flashback saat PMB.

Memang rasa kecewa dan sedih itu sudah dipendam saat penerimaan mahasiswa baru, saat itu registrasi ulang Maba, dimana setiap fakultas mendirikan posko masing-masing untuk memperkenalkan organisasi-organisasi yang berada di fakultasnya. Untuk regis ulang Snmptn berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Kemudian dikelang beberapa minggu baru sbmptn dan tepat pada pertengahan bulan ramadhan lalu setelah hari raya regist ulang untuk mahasiswa penerima bidik misi. Untuk Snmptn semuanya masih lengkap ikhwan dan akhwat masih bekerja sama dengan baik, walau jam karet susah untuk dilepaskan, karena para akhwat lah yang datang pagi yang menyiapkan segala tetek bengek perlengkapan dari mulai tikar sampai ke meja registrasi. Kami membawa nama Waki untuk diperkenalkan kepada Maba yang mampir ke posko. Tahun ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, organisasi-organisasi lain seperti himara, himasos, limas dan sebagainya tidak terlihat begitu bersemangat, hampir dari mereka semua datang sangat siang bahkan ada yang tidak membuka sama sekali. Hanya himara yang sepertinya masih menunjukkan kesediaannya. Kali ini entah kenapa kami Fisip mendapatkan tenda, yang semulanya beredar isu bahwa Fisip tidak akan dapat tenda selama PMB.

Dan ternyata ada miss komunikasi antara internal Bem KM Unsri sehingga pada PMB Sbmptn, Fisip tidak mendapatkan tenda. Kali ini sudah memasuki masa liburan semester sehingga banyak kader yang mudik ke kampung halaman masing-masing. Terlihat tak seramai dengan snmptn kemarin, mana pula di hari puasa, banyak yang malas untuk keluar rumah apalagi untuk mengurus PMB yang membutuhkan tenaga ekstra untuk melayani para Maba.

Disini aku merasa sangat kagum pada para akhwat waki, mereka semua bersedia hadir untuk memberikan pelayanan sebagai salah satu misi dakwah yang dibawa. Memang Salma, Fitri, Rini, Sari, Ria, Dani, Ary, Dina dan juga aku adalah kader akhwat waki yang rumahnya masih disekitar Palembang-indralaya, sehingga masih dibatas kemampuan kami untuk bersedia datang ke kampus kecuali si Mona dan Maya yang sudah mudik ke kampungnya yang cukup jauh.

Kami diuji dengan tak adanya tenda untuk Fisip sehingga meluntang lanting kesana kemari mencari tempat untuk dijadikan posko. Dibawah pohon tepat disebelah pintu gerbang sebelah kiri Audit kami jadikan sebagai tempat posko Fisip lebih tepatnya hanya untuk Waki saja. Karena memang panitia Opdik lainnya tak menunjukkan batang hidungnya dan ternyata setelah diselidiki mereka para cowok-cowok Fisip kepala-kepala pecong Opdik 2014 sedang bernegosiasi dengan pihak Bem KM Unsri agar dapat menyediakan tenda untuk Fisip. Sengaja tak kupedulikan, “Dasar *tuttt, sampai di sogok pun pihak Bem Unsri tak akan mau membagi tendanya, dasar tak tahu malu kesalahan pada diri sendiri, eh masih berani minta pula” lirihku dalam hati.

Kesedihan tanpa si ikhwan yang tak berada disamping kami itu pun menambah luka tersendiri tapi sedikit terobati karena adik tingkat yang masih standby dari awal PMB sampai saat ini satu ikhwan dan satu akhwat yaitu dik Nawir dan dik Mara. Mereka masih menyempatkan waktu mereka untuk menemani kami melakukan misi dakwah ini.

Mereka melakukan tugasnya masing-masing, ada yang mencari Maba dan menunjukan arah birokrasi dalam registrasi, ada juga yang menunggu posko, melayani Maba yang datang dan memberikan database yang telah disediakan. Semuanya bergerak seirama tanpa harus di perintah, mereka mengetahui tugas dan kewajiban yang harus ditunaikan. Tak ada yang mengeluh, sesaat masalah ikhwan menghilang dalam pikiran. Sepertinya Allah pun memberikan karunia yang tak bisa kami tebak sebelumnya, kami mendapatkan tenda yang awalnya adalah tenda Nadwah tapi karena Nadwah tak membuka posko akhirnya tenda pun kosong dan menganggur. Kami ditawari oleh mbak-mbak Nadwah untuk pindah ke tenda itu dari pada duduk-duduk di bawah pohon yang tak jelas katanya.

Kami pun menerimanya dengan senang hati, kami berberes dan segera pindah ke tenda Nadwah yang tepat berada di depan pohon yang kami naungi tadi. Hari pun semakin panas, ini benar-benar musim panas yang sangat terasa panasnya. Sengat sinarnya sangat menusuk kulit, tapi beruntungnya kami yang sudah terbalut pakaian muslimah yang menutupi sekujur tubuh hanya muka dan telapak tangan yang tak tertutupi dan itu menjadi bagian yang sensitive karena langsung tersengat sinar mentari. Seakan tak cukup hanya diuji dengan tak mendapat tenda, masalah pun datang menerpa.

Kami yang dibawah tenda disibukkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Maba mengenai syarat-syarat apa saja yang harus dibawa pada saat PK2 nanti, hawa panas pun berhembus dari luar dan masuk ke dalam tenda, tiba-tiba saja Iyan berteriak dengan nada membentak dan marah.

“Ngapain kalian disini, dimana otak kalian ini bukan tenda Fisip, dimana rasa persaudaraan kalian, ayo semuanya pindah ke tengah lapangan, disitu posko Fisip” sambil jari tangannya itu menunjuk dan mata nya melotot seolah Ia benar dan berkuasa. Ku jawab dengan berteriak pula.

“Kasian adiknya, ini siang bolong, mano dk ado tenda di tengah itu. Disini be, disini jugo sudah dapat izin dari Nadwah, kalau kamu dak galak iyo sudah waki be disini” sambil melotot pula aku teriak tak mau kalah, emang dia kayak gitu nggak ada yang berani jawab apa, batinnku menggebu. Semakin merah padam wajahnya, dan membalas tak mau kalah.

“Oy, kamu ini dak setia kawan, malu oy ini bukan punyo kito” semakin mendekat seolah-olah kemarahan tak dapat dihindari lagi, Ia langsung ditahan oleh yang lainnya yang berdiri di depan tenda, tak sadar ternyata semua melihat kejadian itu dan sangat disayangkan kejadian memalukan itu pun dilihat oleh Maba, mareka semua merasa ketakutan dan mulai perlahan mereka beranjak dari tempat duduk dan berdiri melangkah menuju arahan Iyan tadi. Temanku akhwat lainnya, mengingatiku sudahlah Lyn, biarkan saja mereka. Serasa ada uap panas yang keluar dari kepala ku, kedua tanganku menggempal. Fitri menenangkanku.

“Sabar Lyn, sudah kita ikuti saja tidak enak dilihat yang lain”

Sembari fitri menenangkanku ada kakak tingkat yang juga Fisip berkata kepadaku.

“Iyo dek, dak lemak kalian kan memang dak dapat tenda”

“Iyo kk, dan itu memang salah Fisip, ngapo mereka nak marah-marah samo Bem dan ini waki jugo badan otonom tidak terikat aturan yang ado di fakultas jadi berhak untuk nerimo bantuan dari sapo be”

“Iyo dek, tapi waki juga berada dalam Fisip dan sesuai aturan hukuman dari bem semua organisasi dan badan yang ado di Fisip jugo keno sanksi itu”

Kakak itu mencoba menjelaskan dengan perlahan dan aku lupa siapa nama kakak itu padahal sering ketemu di kampus, “sok baik pulo wong ini!!!” lirihku membatin. Terlihat semuanya sudah beralih ke tengah lapangan yang benar-benar panas karena mentari tepat berada di atas kepala apalagi di musim panas ini. Aku masih berdiam di dalam tenda tak beranjak sedikitpun dan ditemani dik Mara. Lalu dik Mara mengajakku berjalan ke Audit saja, dan aku mengikutinya karena aku tak mau ke tengah lapangan itu, silahkan kalian saja berpanas-panas.

Bukan tak mau berpanas-panas dengan akhwat lainnya, tapi yang membuatku kesal adalah Iyan itu, sok hebat sekali beraninya hanya bicara didepan orang banyak. Apa dia tak tahu tata karma, kenapa tidak bilang secara baik-baik dulu dengan kami yang berada di bawah tenda itu. Bicara empat mata dulu dengan aku atau dengan siapalah anggota waki lainnya. Tak enak sekali dilihat adik-adik baru yang tak tahu apa-apa itu. Kalau ngobrol berdua saja, tak berani dia teriak-teriak seperti itu, benar-benar banci, aku menggeram seakan tangan menggempal ini akan kelemparkan ke hidung nya Iyan itu biar kempot. “Kalau saja ada ikhwan, tak berani dia teriak seperti tadi, karena kita semuanya akhwat yang berada di tenda itu, jadinya Dia semena-mena” gumamku berkata sendiri dan mungkin dik Mara mendengarnya, aku tak peduli Ia mendengar atau tidak. Ingin kulampiaskan kemarahanku pada Ikhwan yang tak menunjukan batang hidungnya sedikitpun, bahkan ada putra disitu Ia pun tak membela kami karena ke-adk an nya yang tersembunyi tadi atau justru takut menghadapi mereka.

Ingin kuhubungi partnerku saat itu adalah Muhammad, tapi malas aku menghubunginya rasanya percuma. Ia mudik dan tak bisa memberi solusi yang konkret pastilah aku diceramahinya saja. Menghubungi ketua yang saat itu adalah Hairun, tapi Ia sedang sakit, walau sakit setidaknya aku memberinya kabar, tapi tidak jadi karena tingkat kekecewaan yang over semua dimataku jadi sama saja. Ada dua lagi yaitu Hardi dan Husnu, bahkan mereka berdua yang paling parah, tak ada kabar sama sekali padahal dalam pembagian tugas mereka yang akan menkodisikan Pmb dan Opdik, tapi semuanya busyittt hanya janji-janji palsu yang keluar dari mulut mereka yang tak berdosa itu.

Duduk dihamparan pinggir Audit bersama dik Mara, mendinginkan kepalaku yang terasa panas saking panasnya jadi terasa sakit. Udara panas siang hari semakin terasa, orang-orang yang hilir mudik tak jarang terlihat dengan berpeluh penuh di wajahnya. Beristigfar sebanyak-banyaknya dengan memejamkan kedua mataku yang juga terasa panas. Setelah agak mendingan, aku mengajak dik Mara untuk berkeliling mencari Maba yang berada di dalam Audit untuk diarahkan ke posko. Setelah dapat, kami menghantarnya sampai tenda Nadwah tadi, dan menunjuk ke arah tengah lapangan sembari memberi tahu bahwa itu posko Fisip. Sengaja tak ku hantar sampai ke tempat, karena kedongkolanku belum sepenuhnya hilang dari pada membuat bentrok, mending tak usah  muncul didepan mereka dulu.

Hampir memasuki waktu ashar, kulirik ke tengah lapangan itu, aku tak tega melihat akhwat lainnya yang masih stay disana, mentari pun masih setia menyinari mereka. Kukuatkan diriku untuk kesana, ternyata mereka sudah hampir selesai dan yang mengagetkan orang-orang yang sok hebat yang berteriak ke wajah kami tadi, malah duduk-duduk berteduh di tenda orang. Benar-benar membuatku kalap. “ayo sudahi saja disini, mari kita pulang” kataku dengan rekan akhwat yang masih sibuk membereskan berkas-berkas. Sebelum ashar kami semua sudah bubar dari tempat itu, tak lagi mempedulikan panitia opdik lainnya, biarkanlah mereka yang membereskan meja-meja yang tergeletak di tengah lapangan ini.

Keesokannya, kami tetap di tengah lapangan itu, tapi sudah ada tenda disana bukan dari Bem tentunya tapi dari Bem Fisip sendiri. Selama beberapa hari disana, kami jadi tontonan fakultas lainnya, entah apa yang ada di pikiran mereka, tapi yang pasti dari diri sendiri merasakan malu sekali menjadi tontonan seperti ini, karena kesalahan dari beberapa orang yang tak bertanggung jawab, semuanya merasakan getahnya termasuk waki.

--------

Bayangan PMB yang memilukan itu terlintas begitu saja, dan sekarang di hari pertama PK2 aku masih menunggu dengan penuh harapan bahwa mereka akan hadir untuk memperjuangkan misi dakwah yang dibawa.

Para peserta PK2 sudah memasuki ruangan, jam baru menunjukkan hampir pukul 09.00 tapi seolah sudah siang hari terangnya. Baru saja aku berdoa, ternyata para Ikhwan berdatangan, walau masih terasa kurang lengkap karena Hairun tidak ada, beliau masih sakit dan karena sakitnya itu Ia harus dioperasi. Husnu juga tidak ada, padahal perannya disini juga penting, kami pun tak tahu kabarnya sekarang, dan memang aku tak menghubunginya, dihubungi pun belum tentu Ia mau membalasnya terkadang nomornya pun berada pada pacarnya. Sangat miris sekali jika melihat aktivis dakwah masih ada yang pacaran, memang tak ada yang bisa menghakimi seseorang karena berpacaran, itu adalah hak masing-masing individu, tapi seharusnya tahu diri jika sudah dipanggil Adk setidaknya sedikit tahu tentang batasan-batasan dalam bergaul dengan lawan jenis.

 Ya sudahlah, aku tak ingin membahasnya, ada bahasan yang jauh lebih penting dari itu. Terkadang akhwat terlihat tegar dan seolah tak membutuhkan bantuan dari si ikhwan, tapi ketahuilah sehebat apapun akhwat itu, Ia masih membutuhkan sosok ikhwan yang mengayomi. Meskipun seolah tak bisa diatur tapi butuh ikhwan yang bisa mengarahkan. Meski terlihat garang, tapi percayalah akhwat membutuhkan partner ikhwan yang bisa memberikan nasihat dan motivasi baginya. Karena akhwat tak ingin terlihat lemah dimata ikhwan, seharusnya ikhwan bisa mengerti itu dan bisa mengambil sikap secara tegas tanpa harus diberi aba-aba dari si akhwat. Bukan berarti setiap tindakan tak perlu kompromi dengan akhwat, tapi akhwat akan merasa sangat dihargai jika setiap tindakan meminta pendapat dari si akhwat.